“It's me, Lyak”
Hana Azhary
Bumi Sriwijaya,
07-10-2018
Senja itu, resah yang kurasa dan gelisah
sembari menghanyutkanku. Ketika aku tiba dirumah, terdudukku di depan pintu,
terlintaskan dipikiranku akan kemana kulanjutkan sekolah setelah lulus SMP
nanti. Masih tersimpan dibenakku akan kata-kata ayah yang selama ini selalu
menghantuiku, “lulus nanti jadilah seorang ahli yang professional.” Entah apa
yang ada dibenak ayahku. Berat rasanya untuk menentang keinginan, namun hati berkata ya.
Namaku Lyak. Anak sulung dari 2 bersaudara.
Meski itu, ayah yang hanya seorang karyawan kontrak dan ibu sebagai pencuci
pakaian, berat hatiku untuk meninggalkan kodrat tersebut. Termotivasi bagiku
akan kata-kata ayah yang selalu menjadi potretan hidupku. Terteguh keyakinanku akan
cita-citaku yang ingin menjadi dokter. Namun, pupuslah sudah, ketika ayah
sontak berkata: “Yak, lulus ini lanjut SMK, bukan?”. terkadang hati ini ingin
memberikan yang terbaik, namun keyakinanku yang erat membuatku tak ingin jauh
dari cita-citaku, “tapi Ayah, Lyak kan mau jadi dokter”.
Terhenti
seketika ayah bicara. Tergugah hati ini untuk mengungkapkan kata
maaf, namun ayah telah beranjak pergi ke halaman belakang. Seketikaku termenung
dan angin membisikkanku : “janganlah kau buat ia menangis akan kegagalanmu,
jadilah yang terbaik, buatlah mereka bangga akan semua itu, tunjukkan bahwa
kamu pasti bisa. Seiring waktu berjalan, tak sempat aku mencicipi bangku
SMK, kini aku telah duduk di kelas dua SMA. Beruntung, ayahku mengizinkanku
masuk SMA namun dengan satu syarat “ jangan kau kecewakan kami “. Melayang yang
kurasa ketika orangtuaku merestui akan itu. Cita-citaku yang ingin menjadi
dokter pun enyah. Keterbatasan yang dialami keluaraga kami, merasuk hati akan
keinginan untuk mengubah cita-cita. Terusik dipikiranku akan Universitas yang
tidak mengeluarkan biaya sedikitpun alias gratis. Hitung-hitung buat
membantu ekonomi keluarga. BATAN pilihanku. Selagi nilai kimia yang cukup
memuaskan apa salahnya untuk mencoba.
Kegagalanku di BATAN akan penyakit yang
kuderita membuatku patah semangat. Kini, ditambah cobaan yang datang, ketika
sang ibu yang sangat dekat denganku, yang selalu memotivasiku akan perjuangan
hidup, kini ia telah dijemput Tuhan, rasanya aku tidak ingin hidup kembali.
Menelusup di benakku akan perasaan yang kualami. Semuanya tak pernah kusangka
sedikitpun.
Dengan semua cobaan ini, aku tahu tuhan akan
memberiku kekuatan. Ketika aku berdo’a kepada Tuhan, terlintaskan dipikiranku
akan beasiswa yang ada di Batam yang dulu pernah ditawarkan oleh guru SMA ku.
Ku coba itu untuk melampiaskan rasa sakit yang kurasa. Kasih Tuhan pun datang,
keberhasilanku untuk mengikuti test di salah satu fakultas Universitas di Batam
pun barhasil ku raih. Dan kini, aku telah menjadi seorang mahasiswa.
Seiring berputarnya waktu, ketika penyakit
ayah mulai kambuh, hinggap dipikiranku dan seraya merasuk ke jiwaku akan
kata-kata yang selalu terbayang-bayang : “ Bagaimana nasibku kelak ketika
cobaan datang melandaku lagi.” Empat bulan kemudian, tak kusangak sang ayah pun
pergi menyusul ibunda tercinta untuk selamanya. Dan kini, hanyalah aku dan
adikku yang akan berusaha menjalani hidup. Terjerat ilmu waktu dulu aku SMA, berawal
dari bekal merajut membuat ketertarikan bagiku untuk berkarya di waktu senggang
perkuliahan. Mencoba, belajar, dan menekuni. Bagaikan bunga yang ingin mekar
sembari memancarkan sinarnya. Tidak kusangka, kini aku telah menjadi
wirausahawan. Ketertarikanku itu telah merajut hatiku dan menjadikanku sebagai
lulusan sarjana infomatika dan wirausahawan di bidang rajutan.
Semua hasil tanganku, tak jauh dari ridho
Tuhan dan do’a orangtua. Ini akan kujadikan bekal di hari esok. Dengan
ketekunanku, berbagai benda pakai seperti pakaian, hijab, tas, dan lain-lain
berhasil kusulap. Dengan ilmu di bangku perkuliahanku dulu, kini dapat ku
pasarkan hasil tanganku melalui jejaring sosial. Dan kini, jaringan bisnisku
telah meluas, berkat semua itu dapat kululuskan adikku di fakultas tata bahasa
jepang di Jepang. Itu semua ku syukuri, tidak luput dengan bimbingan dan
motivasi dari orang-orang terdekat yang kucintai maupun yang mencintaiku yang
telah membuatku tegar dalam berbagai kesulitan. Tak lupa kasih Tuhan yang
diberikan kepadaku mengajarkanku untuk lebih mensyukuri hidup.
The End