Senin, 08 Oktober 2018

PUISIKU CURAHAN HATIKU

Berbeda
Part 1

Sunyi pagi terekam jiwa
Ku tanya namun tak terhirau
Rautnya menerpa batinku
Tak tau kenapa, dia buatku gundah
 ...
Banting rasa ku dihadapnya
Hariku buram, hatiku sendu
Terdiam terpaku dibuat olehnya
Bingung tanpa tahu apa-apa
 ...
Suguhan mimik wajah itu masih terbayang
Datar tanpa senyuman tenang
Aku, tak tahu apa-apa kawan
Bicaralah padaku
Bahwa kita sedang baik-baik saja
...

By:
Hana Azhary
Bumi Sriwijaya, 08-10-2018


Minggu, 07 Oktober 2018

CERPEN PERTAMAKU



“It's me, Lyak”

Hana Azhary
Bumi Sriwijaya, 07-10-2018


Senja itu, resah yang kurasa dan gelisah sembari menghanyutkanku. Ketika aku tiba dirumah, terdudukku di depan pintu, terlintaskan dipikiranku akan kemana kulanjutkan sekolah setelah lulus SMP nanti. Masih tersimpan dibenakku akan kata-kata ayah yang selama ini selalu menghantuiku, “lulus nanti jadilah seorang ahli yang professional.” Entah apa yang ada dibenak ayahku. Berat rasanya untuk menentang keinginan, namun hati berkata ya.

Namaku Lyak. Anak sulung dari 2 bersaudara. Meski itu, ayah yang hanya seorang karyawan kontrak dan ibu sebagai pencuci pakaian, berat hatiku untuk meninggalkan kodrat tersebut. Termotivasi bagiku akan kata-kata ayah yang selalu menjadi potretan hidupku. Terteguh keyakinanku akan cita-citaku yang ingin menjadi dokter. Namun, pupuslah sudah, ketika ayah sontak berkata: “Yak, lulus ini lanjut SMK, bukan?”. terkadang hati ini ingin memberikan yang terbaik, namun keyakinanku yang erat membuatku tak ingin jauh dari cita-citaku, “tapi Ayah, Lyak kan mau jadi dokter”.

Terhenti seketika ayah bicara. Tergugah hati ini  untuk mengungkapkan kata maaf, namun ayah telah beranjak pergi ke halaman belakang. Seketikaku termenung dan angin membisikkanku : “janganlah kau buat ia menangis akan kegagalanmu, jadilah yang terbaik, buatlah mereka bangga akan semua itu, tunjukkan bahwa kamu pasti bisa. Seiring waktu berjalan, tak sempat aku mencicipi bangku SMK, kini aku telah duduk di kelas dua SMA. Beruntung, ayahku mengizinkanku masuk SMA namun dengan satu syarat “ jangan kau kecewakan kami “. Melayang yang kurasa ketika orangtuaku merestui akan itu. Cita-citaku yang ingin menjadi dokter pun enyah. Keterbatasan yang dialami keluaraga kami, merasuk hati akan keinginan untuk mengubah cita-cita. Terusik dipikiranku akan Universitas yang tidak mengeluarkan biaya sedikitpun  alias gratis. Hitung-hitung buat membantu ekonomi keluarga. BATAN pilihanku. Selagi nilai kimia yang cukup memuaskan apa salahnya untuk mencoba.

Kegagalanku di BATAN akan penyakit yang kuderita membuatku patah semangat. Kini, ditambah cobaan yang datang, ketika sang ibu yang sangat dekat denganku, yang selalu memotivasiku akan perjuangan hidup, kini ia telah dijemput Tuhan, rasanya aku tidak ingin hidup kembali. Menelusup di benakku akan perasaan yang kualami. Semuanya tak pernah kusangka sedikitpun.

Dengan semua cobaan ini, aku tahu tuhan akan memberiku kekuatan. Ketika aku berdo’a kepada Tuhan, terlintaskan dipikiranku akan beasiswa yang ada di Batam yang dulu pernah ditawarkan oleh guru SMA ku. Ku coba itu untuk melampiaskan rasa sakit yang kurasa. Kasih Tuhan pun datang, keberhasilanku untuk mengikuti test di salah satu fakultas Universitas di Batam pun barhasil ku raih. Dan kini, aku telah menjadi seorang mahasiswa.

Seiring berputarnya waktu, ketika penyakit ayah mulai kambuh, hinggap dipikiranku dan seraya merasuk ke jiwaku akan kata-kata yang selalu terbayang-bayang : “ Bagaimana nasibku kelak ketika cobaan datang melandaku lagi.” Empat bulan kemudian, tak kusangak sang ayah pun pergi menyusul ibunda tercinta untuk selamanya. Dan kini, hanyalah aku dan adikku yang akan berusaha menjalani hidup. Terjerat ilmu waktu dulu aku SMA, berawal dari bekal merajut membuat ketertarikan bagiku untuk berkarya di waktu senggang perkuliahan. Mencoba, belajar, dan menekuni. Bagaikan bunga yang ingin mekar sembari memancarkan sinarnya. Tidak kusangka, kini aku telah menjadi wirausahawan. Ketertarikanku itu telah merajut hatiku dan menjadikanku sebagai lulusan sarjana infomatika dan wirausahawan di bidang rajutan.

Semua hasil tanganku, tak jauh dari ridho Tuhan dan do’a orangtua. Ini akan kujadikan bekal di hari esok. Dengan ketekunanku, berbagai benda pakai seperti pakaian, hijab, tas, dan lain-lain berhasil kusulap. Dengan ilmu di bangku perkuliahanku dulu, kini dapat ku pasarkan hasil tanganku melalui jejaring sosial. Dan kini, jaringan bisnisku telah meluas, berkat semua itu dapat kululuskan adikku di fakultas tata bahasa jepang di Jepang. Itu semua ku syukuri, tidak luput dengan bimbingan dan motivasi dari orang-orang terdekat yang kucintai maupun yang mencintaiku yang telah membuatku tegar dalam berbagai kesulitan. Tak lupa kasih Tuhan yang diberikan kepadaku mengajarkanku untuk lebih mensyukuri hidup.






The End


PUISIKU CURAHAN HATIKU

Berbeda Part 1 Sunyi pagi terekam jiwa Ku tanya namun tak terhirau Rautnya menerpa batinku Tak tau kenapa, dia buatku gundah ...